Blog

#

Islamisasi Ilmu Pengetahuan Naquib Al-Attas

Oleh karena itu, gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan Naquib Al-Attas merupakan usaha yang perlu diapresiasi. Hal itu dikarenakan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan tersebut merupakan tawaran yang cukup berarti untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam Islam. Meskipun masih banyak kekurangan di dalamnya, namun semangatnya untuk mewujudkan manusia sempurna yang didasarkan pada hakikat pengetahuan dalam Islam perlu untuk ditelaah lebih lanjut lagi; bagaimana gagasan tersebut bisa relevan dengan era kekinian.

Kegagalan proyeksi tersebut lantaran dalam aplikasinya Al-Attas masih berhenti pada tataran formal. Islamisasi hanya sebatas pada nama-nama, seperti nama fakultas, nama barang, atau nama-nama lainnya, sebagaimana yang ia kembangkan bersama koleganya, ISTAC, International Institute of Islamic Thought and Civilization.

Dengan ketiga metode yang dikembangkan oleh Naquib Al-Attas, ia menginginkan manusia yang sempurna (al-insan al-kamil). Salah satu upaya yang dilakukan oleh Al-Attas dalam merealisasikan tujuan tersebut adalah melalui pendidikan. Sebenarnya proyeksi Islamisasi ilmu pengetahuan di awal tahun 1990-an sangat terkenal di Malasyia, tempat ia dibesarkan dan mengabdi. Akan tetapi, gagasan-gagasannya tidak terlalu dikenal oleh masyarakat Malaysia.

Ketiga, terkait dengan otoritas. Jika dalam ilmu pengetahuan Barat otoritas akan dibuktikan dengan validitas data, namun jika dalam Islam otoritas tersebut dikembalikan kepada Alquran dan hadis Nabi Muhammad Saw. Kedua otoritas tersebut tidak hanya sebagai sumber kebenaran, tetapi juga sebagai pembentuk sebuah kebenaran.

Kedua, akal dan intuisi. Akal yang dipahami oleh Naquib Al-Attas tidak jauh berbeda dengan apa yang dijelaskan oleh para sarjana Barat. Akal dalam hal ini memiliki peran untuk berpikir secara logis. Sementara itu dalam konteks ini, akal disejajarkan dengan intuisi, dan inilah yang menurut Al-Attas menjadi pembeda antara pengetahuan Islam dan Barat. Perolehan intuisi didapat manusia melalui jalur ketekunan manusia dalam menjalankan syariat Islam secara ikhlas.

Kelima indra ini, baik indra lahir maupun indra batin, semuanya saling berkaitan satu sama lain. Hal ini dikarenakan indra-indra batin yang secara batiniah mempersepsikan citra-citra indrawi dan maknanya, menyatukan atau memisah-misahkannya, menyerap gagasan tentangnya, menyimpan hasil-hasil penyerapan itu, dan melakukan inteleksi terhadapnya.

Untuk mencapai pengetahuan tersebut, di sini Naquib Al-Attas telah membuat beberapa metode. Pertama, indra-indra lahir dan batin. Menurut Al-Attas, indra dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah indra lahir yang terdiri atas indra perasa tubuh, indra pencium, indra pendengar, indra lidah, indra penglihat. Sementara itu, yang kedua adalah indra batin yang terdiri atas indra umum (common sense), representasi, estimasi, ingatan, pengingatan kembali, dan imajinasi.  

Adapun pengetahuan jenis kedua yaitu tentang ilmu-ilmu yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan, dan penelitian. Pengetahuan kedua melalui perenungan, usaha penyelidikan rasional, dan didasarkan atas pengalamannya tentang sesuatu yang dapat ditangkap pancaindra, dipahami, dan dipikirkan. Pencarian pengetahuan jenis pertama menurut Al-Attas hukumnya fardlu ‘ain, yakni wajib bagi semua orang muslim, sedangkan pengetahuan kedua hanya bagi sebagian muslim atau sifatnya fardlu kifayah.

Al-Attas lantas mencoba membagi ilmu pengetahuan menjadi dua macam; Pertama, pengetahuan bagi kehidupan jiwa; Kedua, pengetahuan yang dapat digunakan untuk melengkapi dirinya dalam dunia untuk mengejar tujuan-tujuannya yang pragmatis. Pengetahuan jenis pertama diberikan oleh Allah melalui wahyu-Nya pada manusia dan ini berupa kitab suci Alquran. Pengetahuan jenis ini mengisyaratkan bahwa manusia hanya dapat menerima melalui perbuatan-perbuatan penyembahan, ketaatan, dan kebaktian kepada Allah, juga penerimaan tersebut tergantung atas kehendak Allah serta kekuatan dari kemampuan spiritual tersembunyi yang diciptakan Allah untuk menerimanya. Manusia menerima pengetahuan dengan pengertian langsung atau persepsi dan penyingkapan visi spiritual (kasyf) (Naquib Al-Attas; 1981).

Atas kritikan dan komentarnya ini, Naquib Al-Attas mencoba menawarkan untuk dilakukannya de-westernisasi ilmu pengetahuan yang nanti mengarah pada ide dan gagasannya tentang Islamisasi ilmu pengetahuan. Dalam bukunya yang berjudul Islam dan Sekularisme (1981), Naquib Al-Attas pertama-tama ingin membebaskan belenggu pengetahuan dalam diri manusia. Baginya, manusia harus terbebaskan dari hal-hal yang berbau magis, mitologis, animistis, nasional-kultural, serta terbebaskan dari hal-hal bersifat sekuler. Pembebasan yang diinginkan oleh Naquib Al-Attas ialah terhadap jiwa atau rohani manusia.

Kegelisahan Naquib Al-Attas atas sekularisasi pengetahuan yang dibawa dari Barat ke dunia Timur bertolak belakang dari tradisi keilmuan Islam. Al-Attas mengawali kritikannya dengan argumentasi hakikat pengetahuan dalam Islam. Menurutnya, terdapat perbedaan antara pengetahuan Tuhan dengan pengetahuan manusia mengetahui Tuhan, agama, dunia, dan hal-hal yang dapat ditangkap pancaindra dan dipahami oleh akal budi, juga dibedakan antara pengetahuan dan kearifan spiritual.

Bahkan Naquib Al-Attas pada tahun 1980-an menganggap bahwa Nurcholish Madjid sebagai salah seorang lulusan Barat yang menyebarkan sekularisme di Asia, khususnya Asia Tenggara. Komentar yang diberikan oleh Naquib Al-Attas kepada para sarjana Barat seperti Nurcholish Madjid, dinilai tidak sesuai dengan semangat Islam. Al-Attas mengungkapkan bahwa secara ideologis mereka masih berada pada garis asal yang sama dengan kaum reformis modernis dan penganut-penganut mereka. Bagian terbesar dari mereka tidak memiliki prasyarat pengetahuan dan epistemologi Islam sehingga mereka terceraikan dari pendekatan-pendekatan kognitif dan metodologis ke sumber-sumber asli Islam dan ilmu pengetahuan Islam.  

Dalam perkembangannya, sekularisasi dan humanisme Barat telah mendominasi pemikiran-pemikiran dan ilmu pengetahuan Barat. Hingga pada akhirnya, ilmu pengetahuan ini ditawarkan kepada para sarjana Asia yang belajar di Barat. Sampai di sinilah kemudian Naquib Al-Attas melontarkan kritikan-kritikannya terhadap sekularisasi yang dilakukan oleh para sarjana Barat di dunia Timur.

Humanisme yang berujung pada sekularisme ini menyebabkan adanya jurang pemisah antara urusan agama dengan sosial maupun politik. Hal ini bisa terjadi karena selama abad kegelapan hingga renaisans, agama telah mendominasi sektor kehidupan, bisa jadi ini merupakan upaya untuk melemahkan peran agama dalam kehidupan sosial masyarakat Barat.

Selengkapnya ...
Menampilkan 1 sampai 1 dari 1 (1 Halaman)